90.188 KK di Ngawi Miskin

Masyarakat yang berada digaris kemiskinan di Kabupaten Ngawi ternyata cukup tinggi.Data terakhir yang dirilis Badan Pusat Statistik(BPS)setempat menyebutkan jumlah real-nya menembus angka 90.118 kepala rumah tangga(KK).Tidak berbanding jauh dengan hasil survey yang dilakukan pada 2005 mencapai 90.907 rumah tangga sasaran(RTS).Atau,hanya mengalami penurunan 789 KK saja.

”Data yang baru di up date itu hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial(PPPS)yang dilakukan akhir 2008 dari 242.040 rumah tangga yang berada di Ngawi,” terang Kepala BPS Cabang Ngawi Widarto Adi Siswanto kepada koran ini.

Tingkat kesejahteraan masyarakat memang tidak banyak berubah kurun waktu lima tahun terakhir.Berbagai sektor tampaknya masih layu dalam menggeliatkan roda perekonomian.Khususnya,mereka yang terjun disektor agraris.Enggan menunjukan perkembangan signifikan. Apalagi,hampir 80 persen diantara mereka hanya sebagai buruh tani.”Jadi ya itu kendalanya,cuma mengandalkan upah dari buruh tani,”ungkapnya.

Berbagai program pemerintah yang dikucurkan dalam peningkatan taraf kesejahteraan,dinilai belum mampu menekan angka kemiskinan.Hal itu disebabkab realita di lapangan,pemberian bantuan itu banyak yang mengarah kepada masyarakat yang justru tingkat perekonomiannya relatif mapan.”Fenomena masyarakat sekarang ini berbeda.Malah senang bila dikategorikan keluarga tidak mampu.Dengan dalih itu tadi,akan mendapat bantuan yang berupa bahan pokok atau uang tunai,”katanya.

Untuk itu,pemkab harus benar-benar selektif dalam pengucurkan bantuan.Tidak hanya mengandalkan data yang dikantongi BPS saja.Tapi juga turut melihat tingkat kelayakan kepala rumah tangga yang dikategorikan penerima bantuan.Sehingga nantinya dapat menjadi pembanding.”Jadi akan tepat sasaran dan tidak percuma dengan berbagai program pemerintah tersebut.Yang pasti untuk BLT masih mengacu data yang lama(survey 2005). Berbeda dengan Raskin yang sudah berpatok pada hasil PPPS,”tandasnya.

Sementara itu,sebanyak 37 KK di Dusun Planggarem Desa Planglor Kedunggalar masih berada dibawah garis kemiskinan.Menurut Suparlan,warga setempat,hampir sebagian rumah yang ditempatinya masih berlantaikan tanah liat.Warga yang tinggal di pinggir bengawan Solo itu hanya mengandalkan nafkah dari mencari ikan di aliran bengawan itu.”Semua warga disini kebanyakan mencari ikan dan udang di aliran bengawan.Selebihnya, paling buruh tani di lahan-lahan pertanian yang lokasinya jauh dari sini(Planggarem,red),”ungkapnya.(dip/tya)

Sumber: Radar Madiun Kamis, 12-11-2009

Both comments and pings are currently closed.