Sirene waspada banjir berbunyi keras.Ratusan warga berhamburan menyelamatankan diri dari terjangan air bah itu.Ada yang hanya membawa makanan dan pakaian seadanya.Bahkan,tak jarang warga yang menyelamatkan diri bersama hewan peliharaannya.Beberapa warga yang sudah terjebak dalam genangan air terpaksa harus dievakuasi dengan menggunakan perahu karet oleh petugas SAR(Search and Rescue).
”Simulasi ini untuk waspada dini terkait penanganan korban bencana,”terang Suryadi Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat(Kesbangpol dan Linmas),Suryadi saat dikonfirmasi koran ini, kemarin Simulasi penanganan korban banjir yang dilakukan di Waduk Pondok Karangjati.
Dalam simulasi itu sendiri tidak hanya melakukan pertolongan kepada para korban yang terjebak banjir saja.Tapi juga melakukan penanganan seluruh korban yang terkena dampak bencana air bah itu.Diantaranya, logistik,perawatan kesehatan,tenda pengusian dan, dapur umum.”Untuk itu kami melibatkan seluruh satker (satuan kerja) terkait untuk dapat bersama-sama dalam penanganan para korban,”ungkapnya.
Dikatakannya,hampir sebagian wilayah Ngawi termasuk zona merah akan ancaman banjir.Khusunya,kawasan yang berada di sekitar aliran Bengawan Solo dan Sungai Madiun.Meliputi,Kecamatan Kwadungan,Pangkur,Kota,Pitu dan,Mantingan.Sebagai antisipasi dini,pihaknya telah mempersiapkan beberapa perahu boat di wilayah yang dianggap rawan.”Sudah kami siapkan perahu karet di setiap kecamatan.Dengan demikian tidak akan menunggu waktu lama saat melakukan evakuasi,”tuturnya.
Lanjut dia,pembangunan tanggul di sepanjang aliran sungai Madiun dan Bengawan Solo yang sekarang dipercepat pengerjaannya itu,belum dapat dijadikan patokan kawasan Ngawi bebas banjir.Mengingat,tanggul yang dikonseptori Balai Besar Bengawan Solo itu baru terealisasi 60 persen.”Penyebab banjir itu banyak. Adanya tanggul yang tinggi belum tentu itu akan aman dari ancaman banjir,”ucapnya.
Sementara,simulasi itu sendiri melibatkan 300 petugas gabungan(Polres,Kodim 0805 dan Satpol PP Pemkab)dan 250 warga Desa Dero Karangjati.Para personil yang diterjunkan dapat menjalankan tugas dengan baik. Bahkan,diantara mereka rela menggendong wanita hamil dan orang jompo.”Semua harus dijalankan sesuai dengan realita yang nantinya bakal dihadapi di lapangan.Jadi dalam simulasi ini tidak ada rekayasa sama sekali. Murni pengadopsian pengalaman bencana banjir tahun-tahun sebelumnya,”tambah Kapolres Ngawi AKBP Budi Sajidin melalui Kabag Ops Kompol Suseno. (dip/tya)
Sumber: Radar Madiun 13-11-2009


July 14th, 2010
admin
Posted in 



