SAYANG, artis peragawati dan model terkenal Ratih Sanggarwati yang diusung PPP dan PKB menjadi calon Bupati Ngawi dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) 12 Mei 2010, mengalami kekalahan dalam merebut periolehan suara. Kalah di Pelkada, Ratih menyayangkan banyaknya kertas suaranya yang rusak.
“Sangat disayangkan, saya ketahui banyak suara yang rusak di TPS-TPS dan mayoritas suara tersebut adalah milik saya,” ujar Ratih ketika berbincang dengan wartawan via ponselnya, Kamis (13/5/2010).
Hingga kini Ratih belum mendapatkan data yang valid. Walaupun penghitungan suara Ratih yang sudah mengeluarkan dana kampanye lebih Rp 5 miliar ini tidak unggul, hasil pilkada baru akan keluar tujuh hari setelah mengambilan suara.
Ini pertama kalinya, perempuan berusia 46 tahun itu mencalonkan diri dalam pilkada. Sebelumnya Ratih sempat ingin mencobanya di tahun 2005 namun tidak jadi. “Dengan kekalahan saya berarti masyarakat Ngawi tidak ingin sejahtera,” ucap Ratih.
Belum diketahui apakah Ratih juga akan mempermasalahkan kertas suaranya yang terbuang sia-sia. Ia akan mengkonsultasikan hal tersebut dengan timnya terlebih dahulu.
Ratih mengaku sangat konsen untuk mensejahterakan masyarakat Ngawi. Selama ini, banyak orang mengenal Ngawi saat Ratih menjadi model. Saat itu, tepatnya tahun ‘80-an, banyak orang bertanya kepadanya di mana letak Ngawi. Di situlah banyak yang mulai mengenal daerah asalnya.
Ratih pun sangat menyayangkan banyak figur asal Ngawi yang tidak mau mengaku. “Seperti Didi Kempot, Sri Bintang Pamungkas, Mamiek Slamet, orang-orang tahunya mereka dari Solo,” ungkap wanita yang memiliki usaha butik di Jakarta ini.
“Nah, dari situ saya terpanggil untuk pulang ke Ngawi, karena sebenarnya saya iri dengan beberapa kabupaten yang sudah maju fasilitasnya. Jadi keadaan memang mengharuskan akan adanya perubahan, contohnya tentang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur,” sambung artis yang sudah mulai tertarik masuk panggung politik sejak 2005 ini.
Pilkada Ngawi diikuti 5 pasangan calon bupati-wakil bupati, yakni Tri Suyono-Suramto (NOTO) yang diusung Partai Hanura, PKPB dan PBR; Mohammad Rosidi-Siti Amsiyah (ROSA) dari calon perseorangan; Budi Sulistyono alias Kanang-Ony Anwar (OK) yang diusung PDIP, Golkar, PAN dan PKS; Maryudhi Wahyono-Suratno (MARS) yang diusung Partai Demokrat dan aliansi 12 parpol non parlemen; dan Ratih Sanggarwati-Khoirul Anam yang diusung PPP dan PKB.
Coblosan Pilkada Ngawi dilaksanakan Rabu (12/5), dengan jumlah pemilih 738.372 orang yang tersebar di 1.481 TPS. Berdasar laporan kekayaan yang dilaporkan para calon ke KPU Ngawi, kekayaan Ratih Sanggarwati paling besar dibanding empat calon lainnya. Ratih memiliki kekayaan sebesar Rp 5,3 milyar. Sedangkan Khoirul Anam Mu’min, calon pasangan Ratih, memiliki kekayaan sekitar Rp 2,9 milyar.
Sedangkan Budi Sulistyono (saat ini menjabat Wakil Bupati Ngawi) yang akrab disapa Kanang, memiliki harta kekayaan sebesar Rp 4,03 milyar. Dan calon pasangan Budi, Ony Anwar Harsono (putra Bupati Ngawi Harsono), memiliki harta kekayaan sebesar Rp 1,96 milyar. Maryudhi Wahyono, memiliki harta kekayaan sekitar Rp 2,6 milyar. Sedangkan pasangannya, Suratno, hanya memiliki kekayaan sekitar Rp 372 juta.
Sedangkan pasangan yang diusung Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan beberapa parpol kecil lainnya, Tri Suyono memiliki kekayaan sebesar Rp 2,2 milyar dan pasangannya Suramto, memiliki kekayaan Rp 1,1 milyar. Diurutan terakhir adalah pasangan Mohammad Rosyidi dan Siti Amsiyah yang maju lewat jalur independen. Rosyidi hanya memiliki kekayaan Rp 333 juta. Sedangkan pasangannya, Siti memiliki kekayaan yang lebih besar yakni Rp 1 milyar.
Biografi
Ratih Sanggarwati adalah seorang model senior Indonesia, yang telah banyak belajar tentang mode termasuk di Paris, Perancis. Pada 1997, Ratih mundur dari dunia model dan peragawati, untuk kemudian memutuskan sebagai seorang ibu rumah tangga dan menekuni bisnis pribadi, di antaranya mengelola cafe Expose bersama teman-temannya dan mendirikan butik.
Perempuan kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 8 Desember 1962 itu, meski meninggalkan panggung catwalk, ia tetap aktif sebagai penulis buku-buku tentang mode. Diantara karyanya, TAMPIL ANGGUN DENGAN BUSANA MUSLIM ALA RATIH SANG, JUBAH RATIH SANG: SATU POLA BERAGAM GAYA, KIAT MENJADI MODEL PROFESIONAL, KATA MATA DAN HATI dan KERUDUNGMU TAK SEKEDAR CANTIKMU.
Seperti dikutip kapanlagi.com, Ratih Sanggarwati tidak hanya sibuk menulis. Namun, istri Isman Budisepta Zen yang mulai mengenakan jilbab pada tahun 2000, banyak menerima panggilan untuk memberikan dakwah agama Islam seputar persoalan busana.
Kini ibu tiga anak yang pernah memenangi pemilihan Nona Jakarta 1984 ini, menikmati ‘kariernya’ sebagai ibu rumah tangga dan tetap berkarya. Dalam Pemilu 9 April 2009 lalu, Ratih maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tetapi gagal terpilih menjadi anggota DPR RI.


July 13th, 2010
admin
Posted in
Tags: 



